Puluhan Nasabah BNI Siantar Demo, Tuntut 10 Miliar Dana di Koperasi Dikembalikan

1023

 

WP_20160816_009M24.CO – SIANTAR – Kantor BNI Pematangsiantar di Jalan Merdeka kota itu, Selasa (16/8) siang, didatangi ratusan nasabah. Nasabah yang mayoritas kaum ibu menuntut dana  sekitar Rp10 miliar lebih yang dipindahkan dari BNI ke Koperasi Swadharma segera dikembalikan.

Para nasabah itu datang ke Kantor BNI Pematangsiantar dengan berjalan kaki, lengkap membawa pengeras suara. Sementara puluhan poster dan spanduk yang mereka bawa, bertuliskan kecaman terhadap dua petinggi BI Pematangsiantar, Fachrul dan Rahmat.

Ketua Koperasi Swadharma, Agus juga dituding sebagai pihak yang ikut bertanggungajawab terkait tidak jelasnya uang milik nasabah yang mereka simpan di koperasi itu.

“Kami dibujuk oleh Rahmat dan Agus untuk memodalkan uang kami ke koperasi BNI itu. Katanya akan diberi bunga 1 sampai 3 persen. Tapi sekarang bunganya tak pernah lagi kami terima, waktu kami minta uang kami kembali, mereka selalu mengelak-mengelak,” ujar seorang ibu.

Tulisan-tulisan di poster dan spanduk juga tak kalah pedasnya. Tulisan itu diarahkan kepada Rahmat dan Fachrul selaku pimpinan di BNI Pematangsiantar. Ada yang bertuliskan “Pecat Rahmat, Pecat Fachrul, selamatkan BNI Kota Siantar”. Ada lagi bertuliskan “Hasil Rahmat Kau Dirikan Koperasi Swadharma Untuk Menipu Nasabah BNI Siantar”.

Bahkan Agus selaku Ketua Koperasi Swadharma juga diminta untuk buka suara dan harus ikut bertanggungjawab. Mereka juga menuding bahwa ada bank di dalam bank di tubuh BNI Pematangsiantar.

“Kami juga heran, kenapa dana kami yang sudah aman di rekening BNI, dibujuk untuk dialihkan ke koperasi. Katanya ada imbalan bunga uang, ada yang nerima 1 persen, ada yang 2 persen bahkan kami dengar ada yang sampai 3 persen,” tukas Dewi Latuperssa SH mewakili kliennya.

Puluhan personil kepolisian sempat kewalahan menghadapi massa demo yang terdiri dari omak-omak itu, dikarenakan mereka semakin panas dan mencoba untuk menerobos memasuki kantor BNI. Namun mereka berhasil dihentikan sampai di halaman dalam kantor.

WP_20160816_026Tak lama, Fachrul yang mereka teriaki muncul. Kemudian Pimpinan BNI Pematangsiatar itu melalui petugas kepolisian meminta agar enam orang perwakilan nasabah masuk ke kantor untuk mengadakan dialog.

Tawaran ini disambut baik oleh nasabah dan mengutus enam perwakilannya termasuk kuasa hukumnya Dewi Latuperissa SH. Sayangnya, mereka bukan diajak ke kantor BNI tapi diajak untuk bertemu di kantor Koperasi Swadharma yang berada di ujung paling belakang kantor bank itu.

Kontan saja ajakan ini ditolak, membuat ibu-ibu itu marah. “Tak mau kami di situ, di kantor koperasi itu ada setannya. Kami mau di kantor BNI, di lantai atas,” teriak seorang ibu.

Situasi sempat memanas, karena para nasabah itu semakin marah diperlakukan seperti itu. “Kembalikan uang kami penipu,” teriak seorang lainnya nasabah.

Akhirnya, pihak BNI menyetujui permintaan nasabah untuk berdialog di kantor BNI lantai atas. Pertemuan itu memakan waktu cukup lama, lebih satu jam. Setelah selesai pertemuan, pihak nasabah terlihat kecewa. Menurut Dewi selaku kuasa hukum nasabah, Fachrul tetap menolak sebagai pihak yang bertanggungjawab terkait dana nasabah yang dipindahkan ke Koperasi Swadharma. “Kata Fachrul, tak ada hubungan koperasi dengan BNI, jadi bukan tanggungjawab mereka,” ujar Dewi menjelaskan hasil pertemuan dengan pimpinan BNI itu.

Kemudian nasabah yang ikut bertemu membantah alasan Fachrul. Kata nasabah, Pimpinan BNI jangan buang badan, tapi harus ikut bertanggungjawab, karena nasabah itu memindahkan uangnya ke Koperasi adalah atas bujukan oknum pejabat BNI itu, termasuk Rahmat. Bahkan Rahmat katanya pernah membawa langsung uang nasabah yang ditarik dari rekening BNI untuk dipindahkan ke Koperasi Swadharma. “Ada bukti-buktinya,” tukas Dewi.

Hingga pukul 14.00 Wib, para nasabah tidak juga mendapat jawaban memuaskan. “Kalau dana kami tidak dikembalikan, kami akan terus melakukan aksi demo di BNI ini,” ujar Fariaman Purba SE yang dikenal sebagai Dosen USI.

Fariaman kepada wartawan mengatakan, Rahmad dan Agus itu pernah menjadi siswanya, dan tidak menyangka mantan mahasiswanya memperlakukannya seperti itu. “Rahmat dan Agus itu dulu mahasiswa saya, tapi sanggup memperlakukan saya seperti ini,” ujar Fariaman yang mengaku uangnya dibujuk untuk dipindahkan dari rekening BNI ke koperasi sekitar Rp100 juta.(maris)

Loading...