Soal Siksa & Perkosa Anak Angkat, Jaksa & Penyidik Buang Badan

249
Komite sekolah dan pemerhati anak tengah membahas kasus kekerasan

M24.CO|SIANTAR
Ketua Komite Sekolah, Maringan Turnip, Penanganan Krisis Wanita GKPS, Pdt L Sipayung dan pihak SDN 09152 Hataran Jawa, Kec Tanah Jawa, Kab Simalungun memberi dukungan terhadap Bunga (13) yang menjadi korban penganiayaan dan pemerkosaan orangtua angkatnya.

Di ruangan pertemuan sekolah, Rabu (12/10) sekitar pukul 10:00 WIB, Kepala Sekolah Jasper Simanjuntak, Tri Utomo Pemerhati Anak Siantar Simalungun, mendengar kesaksian 3 guru SD yakni Sinta Sibarani, Wali Kelas IV, Siti Jamilah Siregar, dan Sari, Wali Kelas VI yang megetahui persis keluh kesah dan luka yang diterima Bunga.

Mereka berharap, aparat penegak hukum di Kota Pematangsiantar serius dalam menangani kasus penganiayaan yang dialami Bunga. Pasalnya, hingga berita ini dirilis, pelaku pemerkosaan dan penyiksaan belum ditahan.

Informasi dihimpun di Polres Siantar, berkas pencabulan dengan terlapor Ernes Pardede (50) yang dilimpahkan penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Brigadir Dalwin Saragih ternyata dikembalikan pihak Kejaksaan Siantar karena dinilai belum lengkap atau P19.

Anehnya, tidak ada tindak lanjut yang dilakukan terhadap laporan ke Polres Siantar tertanggal 23 April 2014 dengan nomor laporan polisi, LP/197/IV/2016/SU/STR tersebut.

Kasi Pidum Kejaksaan Siantar, Albert Pangaribuan SH yang ditemui di ruangannya, Rabu (12/10) tak bisa memberikan keterangan atas kekurangan berkas yang perlu dilengkapi pihak Polres Siantar. “Saya bukan tak bisa menerangkan itu. Tapi ada aturan dari Kejagung, bahwa yang berwewenang memberikan keterangan adalah Kajari didampingi Kasi Intel. Itu udah aturan dari Kejagung,” terangnya.

Sementara itu, Brigadir Dalwin Saragih yang menangani perkara pencabulan terhadap Bunga menjelaskan, pihaknya memerlukan keterangan saksi. “Kita masih perlu meminta keterangan dari saksi yang berada di Kampung Batak, Kabupaten Serdang Bedagai. Si Bunga pernah tinggal di sana, dan juga mengalami kekerasan seksual di sana,” terangnya.

Namun Bunga membantah bila pencabulan dialami saat berada di Kampung Batak tersebut. “Pernah tinggal di sana memang sama Aris Panjaitan. Tapi nggak pernah aku dicabuli di sana. Cuma di Siantar aja aku dicabuli di tempat Amangboru Pardede,” bantah Bunga didampingi gurunya, Sahrul Panjaitan.

Bunga juga memastikan bila alat kelamin Ernes Pardede normal. “Hiduplah punya Amangboru Pardede waktu menggauli aku,” bebernya.

Mengenai laporan penganiayaan tertanggal 22 September 2016 dengan nomor STPL 147/IX/2016/SU yang dilakukan Sorta Simanjuntak di kediamannya, Simpang Murni Huta Hataran Jawa, Kec Tanah Jawa, Kab Simalungun, Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP Damos Kristian Aritonang mengaku masih melakukan penyelidikan.

“Kita sudah mintai keterangan dari terlapor (Sorta) dan saksi independen perlu kita mintai keterangan supaya jelas persoalannya. Intinya kita masih melakukan penyelidikan,” terangnya.

Keterangan dan masih bebasnya para pelaku penganiayaan dan pemerkosaan Bunga membuat Willy Sidauruk SH selaku penasehat hukum berang. Ditemui di kediaman Ketua MPI Simalungun, Dalwin Singh Jln Sangnawaluh, Kel Siopat Suhu, Kec Siantar Timur, Kota Siantar, ia mengingatkan penyidik untuk bekerja profesional.

Ia juga menyebut ada kejanggalan dalam pelaksanaan visum yang hasilnya negatif. Untuk itu Willy akan meminta visum ulang. “Jika tak profesional kita akan Propamkan penyidik yang menangani perkara ini,” tegas Willy.(metro24/adi)

Loading...