Sumut Lebih Banyak Impor Ketimbang Ekspor

207

IMPORM24.co-MEDAN
Pada bulan Juni 2016 nilai impor Sumatera Utara (Sumut) mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni sebesar 23, 99%. Hal tersebut berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) Sumut.

Nilai impor Sumut di bulan Juni 2016 atas dasar CIF (Cost, insurance and Freight) sebesar 387,99 juta dolar AS atau naik 23, 99% dibandingkan Mei 2016 mencapai 312.92 juta dolar AS.

Produk yang mengalami peningkatan impor terbesar yakni mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar 40, 16 juta dolar AS (248, 59%) Sedangkan golongan barang yang mengalami penurunan nilai impor terbesar yakni bahan bakar mineral sebesar 7, 89 juta dolar AS (-12, 54%) juta dolar AS (51,16%).

“Nilai impor Juni 2016 dari Tiongkok terbesar yakni 70,19 juta dolar AS dengan perannya mencapai 18, 09% dari total impor Sumut, disusul Australia 51,74 juta dolar AS (13,33%) dan Singapura 50, 20 juta dolar AS (12,94%),” Kata Kepala BPS Sumut Wien Koesdiadmono.

Wien mengatakan, jika impor lebih tinggi daripada ekspor maka akan menimbulkan dampak ekonomi bagi sumut.

Sementara itu, dibandingkan bulan Mei 2016, nilai impor untuk sepuluh golongan barang pada bulan Juni 2016 mengalami kenaikan sebesar US$48,12 juta atau naik 21,97 persen. Demikian juga untuk golongan barang lainnya mengalami kenaikan sebesar US$26,96 juta atau naik 28,72 persen.

Nilai impor terbesar pada Juni 2016 berasal dari golongan mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$56,32 juta, diikuti golongan bahan bakar mineral sebesar US$55,06 juta, mesin/peralatan listrik sebesar US$38,34 juta, ampas/sisa industri makanan sebesar US$26,29 juta, plastik dan barang dari plastik sebesar US$22,24 juta, bahan kimia anorganik sebesar US$21,97 juta. Nilai impor dari golongan barang lainnya di bawah US$20 juta.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut Laksamana Adyaksa, mengatakan, peningkatan impor Sumut terjadi karena perusahaan saat ini berhati-hati menghadapi pasar. Ia memprediksi, penurunan nilai ekspor masih akan terjadi sampai pertengahan 2016.

“Hanya saja diharapkan agar neraca ekspor dan impor dalam kondisi seimbang. Nilai impor jangan sampai lebih besar,” pungkasnya. (red)

Loading...