Tekan Inflasi, Gubsu Minta Dinas Pertanian Petakan Produksi Pangan

205

TEKAN INFLASIM24.co-MEDAN
Gubernur Sumatera Utara H T Erry Nuradi meminta Dinas Pertanian Sumatera Utara memetakan kondisi ketersediaan dan produksi bahan pangan di SUmatera Utara. Pemetaan dimaksud untuk memprediksi dan mengantisipasi kebutuhan bahan pangan pada saat musim paceklik maupun musim panen raya.

“Dinas Pertanian harus punya peta terutama komoditas penyumbang inflasi seperti cabai dan bawang merah, kapan produksi melimpah, kapan paceklik untuk bisa diidentifikasi. Tujuannya agar pasokan ketersediaan bahan pangan stabil sehingga tidak menimbulkan gejolak inflasi,” kata Gubsu saat memberi arahan pada Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Sumatera Utara di Kantor Bank Indonesia, Medan, Senin (15/8).

Rapat yang dipimpin oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IX Sumut dan Aceh Difi Ahmad Johansyah, dihadiri Assisten Ekbang Provu Binsar Situmorang, Kepala SKPD Provsu terkait, Kepala BPS Sumut, Kepala Bulog dan mewakili Pemko Medan.

Dinas pertanian, kata Gubernur, harus bisa mendorong produksi. “Dinas pertanian harus punya peta kapan produksi melimpah, kapan paceklik untuk bisa diidentifikasi. Hari ini kalau kita tidak dimulai tanaman bawang cabai, nantinya akan ada fluktuasi harga. Kita bisa antisipasi dan bisa kerjasama dengan provinsi lain dengan produk melimpah ,” ujarnya.

Gubsu mengajak semua stakeholder bekerjasama terus memantau kondisi inflasi yang terjadi dan mengambil langkah antispiasi. “Ternyata dari perkembangan enam bulan pertama tahun 2016 ini inflasi kita agak tinggi. karena itu perlu kerjasama semua pihak baik dari sisi produksi dan distribusi,” ujar Gubsu.

Gubsu kemudian memberikan arahan yang harus dilakukan untuk pengendalian inflasi, diantaranya agar SKPD berkaitan dengan produksi baik pertanian dan peternakan segera berkoordniasi dengan instansi terkait. “Lakukan rapat dan kunjungan ke peternakan untuk mengatasi persoalan yang ada,” kata Gubsu. Gubsu mengingatkan hal penting lainnya yaitu jalur distribusi. Jangan sampai petani mendapat sedit namun harga di pasar tinggi. Distribusi seperti ini yang harus dipotong agar efisien.

“Dinas Perindag harus bisa mengatasi ini, koodrinasi dnegan bulog untuk membangun distribusi yang efisien,” kata Gubsu. Demikian juga untuk produk lain seperti gula pasir dan barang latu in yang bisa stabilkan harga. “Gula dan daging sudah banyak yang masuk. kita libatkan daerah untuk operasi pasar serentak, karena Sumut bukan hanya medan saja. Apalagi kalau harga mulai naik, segera koordinasi dengan bulog agar bisa operasi pasar,” pinta Gubsu.

Sementar Difi A Johansyah menjelaskan memasuki semester II 2016 inflais Sumut tertinggi ke 12 di Indonesia, turun signifikan dari posisi pertama pada triwulan I 2016. Inflasi Sumut pada Juli 2016 sebesar 0,18% (mtm) merupakan inflasi terendah dalam 14 tahun terakhir yang rata-rata 1,1% (mtm). Namun demikian, ujarnya, secara tahunan inflasi Juli 3,6(% (yoy), lebih tinggi dari realisasi inflasi nasional sebesar 3,21% ((yoy).

Menurut Difi, rendahnya inflasi Juli 2016 terutama didorong dengan gencarnya program TPID Provinsi Sumut dalam menyambut lebaran menurunkan risiko tekanan harga pangan melalui operasi pasar, kerjasama denga BUlog Jateng dalam komoditas bawang merah, komunkasi belanja bijak dan program tanggap bencana. (red)

Loading...