Wartawan Korban Keberutalan TNI AU Tolak Berdamai

290

M24.co-Medan

Pasca menjadi korban kekerasan prajurit TNI AU saat melakukan peliputan di Sari Rejo pada Senin (15/8/2016), kondisi salah seorang Jurnalis Andry Safrin (MNC TV ) berangsur pulih.

Safrin yang dirawat di RS Royal Prima Selasa (16/8/2016) dinihari, setelah sebelumnya sempat dirawat di RS Mitra Sejati dan RSUD Pirngadi Medan telah dapat menggerakkan lehernya secara perlahan. Meskipun demikian, Safrin masih terbaring di tempat tidur rumah sakit tersebut.

Saat kejadian,  berawal saat dirinya meliput bukan hanya di bagian leher, kepala Safrin juga dipukul dengan  pentungan yang terbuat dari rotan. Bahkan tanganya pun dipijak.

“Aku melihat ada warga yang dipukuli prajurit TNI AU di persimpangan Jalan Mawar. Setelah aku merekam mereka, tiba- tiba dipukul dari belakang. Kepalaku dipukul pakai pentungan rotan dan  tanganku diinjak-injak,” kata Safrin, Rabu (17/8/2016).

Selanjutnya, ia dibawa ke tempat  yang agak sepi, dan handycam, ID Pers serta dompet miliknya dirampas. “Sempat aku bilang sama mereka kalian ini seperti begal,” ujar Syafrin.

‎Setelah kejadian itu, pihak TNI AU menjenguknya di Rumah Sakit. Dalam pertemuan itu, pihak TNI AU meminta maaf dan sempat menyampaikan perihal berdamai.

Namun, permintaan damai itu tidak diamini Safrin. “Saya sebagai manusia hanya bisa memaafkan, tapi tidak ada kata damai. Proses hukum tetap berlanjut. Rencananya Kamis (18/8/3016) pagi saya bersama tim advokasi akan melaporkan kasus ini ke Denpom AU,” ungkapnya.

Safrin menyayangkan, pihak TNI AU menyatakan, handycam dan kartu ID Card miliknya hilang. “Dalam handycam itu ada segala aksi kebrutalan mereka (TNI AU). Enggak mungkin hilang. Begitu juga dengan kartu ID cardku,” pungkasnya. (rel/ded)

Loading...