3 ribu pasutri di Kota Medan bercerai, ini faktornya……………..

32

Adlan-Medan |Pengadilan Agama (PA) Medan Kelas I-A mencatat, dari 3.000 kasus yang ditangani selama setahun, 80 persen diantaranya kasus perceraian pasangan suami isteri (Pasutri) di Kota Medan. Sedangkan sisanya 20 persen masalah warisan, harta gono-gini, hak asuh anak serta ekonomi syariah.

Tingginya angka perceraian itu membuat Walikota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi prihatin dan miris. Itu disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua PA Medan di rumah Dinas Walikota, Rabu (11/4). Selain silaturahmi, kunjungan dilakukan untuk membangun sinergitas dengan Pemko Medan.

“Prihatin dan miris tingginya angka perceraian di Kota Medan. Bahwa anaklah yang menjadi korban akibat dari perceraian. Selain psikologis, masa depan anak juga ikut terganggu. Kepada pasutri agar berpikir panjang sebelum memutuskan perceraian,” kata Eldin.

Kepada PA Kelas I Medan, Eldin meminta, berupaya semaksimal mungkin untuk menekan angka perceraian. Apalagi sebelum memutuskan perkara perceraian, pihak PA lebih dulu melakukan mediasi.

“Mediasi yang dilakukan dapat mengubah keinginan pasutri yang ingin bercerai tidak jadi. Perceraian merupakan hal yang paling dibenci Allah SWT, walaupun diperbolehkan dalam konteks tertentu. Dengan mediasi yang baik dilakukan perceraian dapat diatasi,” harapnya.

Pemko Medan melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, lannjutnya, siap mendukung PA Kelas I Medan agar pekerjaan dapat terlaksana dengan baik. “Hubungan selama ini sudah terjalin dengan baik. Semoga dengan kehadiran Ketua PA Kelas I Medan yang baru bisa lebih baik lagi,” ungkapnya.

Ketua PA kelas I Medan, Drs Misran SH Mhum didampingi sejumlah bawahannya menjelaskan, kedatangan mereka untuk memperkenalkan diri sekaligus bersilaturahmi dengan Walikota beserta jajarannya.

Dipaparkannya, dalam setahun PA Kelas I Medan menerima dan menangani 3.000 kasus. Kasus yang paling banyak ditangani masalah perceraian. Faktor utamanya adalah masalah ekonomi, kurang bertanggung jawab, adanya pihak ketiga serta adanya campur tangan keluarga.

“Tapi pemicu utama perceraian yang kita tangani adalah faktor ekonomi. Dari 80 persen kasus perceraian, lebih 50% pemicunya disebabkan karena faktor ekonomi,” paparnya.

Diakuinya, pihaknya juga berupaya sekuat tenaga melakukan mediasi dengan pasutri yang mengajukan gugatan cerai. Sebagai pendukung, turut dilibatkan sejumlah mediator seperti orang-orang terdekat, keluarga dan ulama agar pasutri berdamai kembali. “Sehingga mengurungkan niat untuk melakukan perceraian,” cetusnya.

Guna mencegah terjadinya perceraian, Misran berpesan kepada warga yang akan menikah agar memahami dan sadar akan hukum. Lalu memikirkan apa dampak yang timbul dari perceraian, terutama menyangkut anak serta tidak mudah terpengaruh dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.