Imunisasi Hak Anak, Virus Rubella adalah Monster

MEDAN-M24 | Kesuma Ramadhan hanya punya satu kata untuk rubella, virus yang tega menggerogoti putrinya Iftiyah Ramadhan. ‘Monster’.

“Karena virus rubella itu hanya berani sama anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Bahkan merusak seluruh organ dalam tubuh anakku sejak janin,” ungkap Kesuma Ramadhan pada sosialisasi dan edukasi kampanye imuniasasi measles dan rubella (MR) Provinsi Sumatera Utara di Cafe Potret, Jln Wahid Hasyim Medan, baru-baru ini.

Kesuma Ramadhan yang akrab disapa Umek ini menuturkan, saat mengandung putri keduanya ini, sang istri, Ratih Rachmadona sempat terkena campak. Mereka tak menyadari jika sang bayi diserang virus rubella. Selain ciri-ciri yang seperti campak biasa, informasi mengenai rubella juga sangat minim saat itu.

Loading...

Hingga Agustus 2016, Iftiyah lahir dengan tubuh sangat kecil, lemah dan berwarna kuning. Bahkan sepasang mata Iftiyah tertutup seperti katarak. Setelah menjalani pemeriksaan laboratorium, dokter memvonis terjadi kerusakan pada penglihatan, pendengaran serta otak dari Iftiyah. Penyebabnya tak lain, virus rubella.

“Siapa yang tidak sedih, ternyata anak yang saya gendong, adzankan (qomad) tidak mendengar suara saya. Air mata tidak habis-habisnya menetes. Kecacatan itu ternyata tak bisa diperbaiki. Tapi mau bagaimana lagi, inilah titipan Allah yang harus kami terima, dia itu anak yang istimewa,” ungkapnya.

Saat ini, di usia dua tahun, Iftiyah yang divonis mengidap Congenita Rubella Sindrome (CRS) hanya mampu berguling. Belakangan, salah satu matanya disebut-sebut tak dapat lagi berfungsi normal.

Ancaman virus rubella ini pun menjadi perhatian pemerintah. Melalui Kementrian Kesehatan, hingga 2020 pemerintah bekerjasama dengan United Nations Children’s Fund (Unicef) komit mengeliminasi campak dan pengendalian penyakit rubella/kecacatan yang disebabkan infeksi rubella saat kehamilan (CRS) melalui program Imunisasi Measles dan Rubella (MR) dalam dua fase.

Diawali di Pulau Jawa 2017 dengan sasaran 35 juta anak yang dilanjutkan di luar Pulau Jawa pada 2018 ini. Salah satunya Pulau Sumatera termasuk Sumatera Utara yang akan dilaksanakan Agustus hingga September.

Communication for Development Specialist Unicef, Rizky Ika Syafitri mengatakan, di Sumut ada empat juta anak yang akan diberikan imunisasi ini secara gratis. Sasaran kegiatan adalah anak usia 9 bulan dan di bawah 15 tahun. Imunisasi ini diberikan tanpa melihat status imunisasi maupun riwayat penyakit campak dan rubella sebelumnya.

“Penyakit campak dan rubella merupakan penyakit infeksi menular dengan media udara. Gejala anak yang terkena campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit disertai batuk, pilek dan mata merah. Sementara itu, gejala penyakit rubella tidak spesifik, bahkan bisa tanpa gejala. Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella. Imunisasi MR adalah salah satu pencegah terbaik saat ini,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Sumut) diwakili Kepala Seksi Bimbingan dan Pengendalian (Bimdal) Wabah dan Bencana, Suhadi menjelaskan, pihaknya sudah mengedukasi tenaga medis untuk melaksanakan imunisasi MR di sekolah-sekolah dan pusat kesehatan seperti Posyandu, Puskesmas dan lainnya.

“Saat ini Dinas Kesehatan Sumut sudah menerima 100 persen vaksin MR. Kita harapkan dapat mencapai 95 persen dari 4 juta anak yang menjadi sasaran imunisasi MR ini,” harap Suhadi.

Pihaknya juga sudah membentuk Komisi Daerah (Komda) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) untuk mengatasi kejadian medik yang terjadi setelah pemberian imunisasi MR. (dra)

Loading...