Sengketa Tapal Batas di Titik Nol Belmera, BPN Medan Sidang Lapangan

11

BELAWAN- M24 | Badan Pertanahan Negara (BPN) Kota Medan melakukan pengukuran ulang dengan sidang lapangan, terkait sengketa tapal batas di titik nol Jln Tol Belawan Medan dan Tanjung Morawa (Belmera), Jumat (3/8) sore.

Berdasarkan surat permohonan Bareskrim Mabes Polri atas laporan PT Jasa Marga, sidang dihadiri pihak yang terlibat sengketa yaitu PT Mitra Jaya Bahari (MJB) dan PT STTC serta pengwalan petugas dari Polres Pelabuhan dibeckup Polda Sumut bersenjata lengkap.

GM PT Jasa Marga Cabang Tol Belmera, Iwan Rosa menyebutkan, ikut menyaksikan atas laporan dugaan penyerobotan lahan seluas 3 mater di sepanjang pinggir titik nol tol Belmera oleh PT MJB dan PT STTC. “Makanya kita menunggu hasil pengukuran dari BPN,” katanya.

Kasubsi Pengukuran BPN Kota Medan, Andika menjelaskan, pengukuran ulang yang dilakukan berdasarkan tembusan surat permohonan dari Bareskrim Mabes Polri, terkait sengketa tapal batas.

“Berdasarkan surat dari masing-masing bersengketa, baik itu dari PT Jasa Marga, PT MJB dan PT STTC akan kita cek. Jadi belum disimpulkan siapa yang menyerobot dan objek mana yang diserobot,” ucap Andika.

Dipastikannya, untuk hasil pengukuran paling lama seminggu menunggunya dikarenakan BPN kesulitan mengukurnya, lantaran areal lahan dipenuhi lalang rumput. Namun di hari itu pihaknya akan bekerja maksimal untuk menuntaskannya.

“Jadi nanti akan nampak mana objek milik masing-masing lahan mereka,” jelasnya. Andika.

Pada kesempatan itu, Humas PT MJB, Kayun menyatakan, pihaknya tidak mengetahui adanya objek tanah telah mereka serobot karena mereka membeli dari pihak pengembang.

Berdasarkan surat sertifikat yang dimiliki, lahan yang mereka tempati sudah sesuai objek. Bahkan, ada sisa jalan untuk digunakan sebagai fasilitas umum yang berdampingan dengan PT STTC.
“Berdasarkan surat, di samping perusahaan ada jalan umum, tapi malah diserobot pihak PT STTC beradasarkan denah surat yang kita pegang. Biarlah BPN yang mengecek, bahwa jalan itu telah diserobot,” ujar Kayun.

Ketika disinggung soal penyerobotan itu, lanjut Kayun, pihaknya bersedia mengembalikannya kepada negara. Selain itu, juga akan membebaskan sisa tanahnya sekitar 10 meter untuk membantu akses jalan tembus ke Kampung Kurnia. Hibah tersebut akan mempermudah perlintasan mobil pemadam kebakaran (Damkar) ke Kampung Kurnia, yang selama terisolir karena tidak bisa dilalui mobil beskala besar.

“Itu hasil perundingan dengan pimpinan daerah beserta Kementrian PUPR. Hasilnya, izin perlintasan jalan itu sudah dikeluarkan dari Dirjen Bina Marga,” terang Kayun.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Jerico Lavian Candra Sik menambahkan, pihaknya sebagai penyidik masih menyelidiki objek tanah tersebut. Jadi, belum bisa kita simpulkan mana objek diserobot dan mana objek milik masing-masing yang bersengkata,” jelasnya. (mag-1)

Loading...