Sidang Diikuti Wartawan, PH Terdakwa Penipuan Kepanasan

PN MEDAN-M24 | Seorang pengacara berinsial Zul, meminta majelis hakim untuk mengusir para wartawan yang meliput di persidangan. Kejadian ini bermula saat wartawan melakukan peliputan dan mengabadikan suasana persidangan yang berlangsung di ruang Cakra 9, Pengadilan Negeri (PN) Medan, kemarin.

Sontak saja terdakwa Fadlun Djamali melalui Penasehat Hukum (PH)-nya, Zul melakukan instruksi dan meminta hakim untuk mengusir wartawan yang meliput persidangan.

“Pak Hakim tolong, kami merasa terganggu dengan keberadaan media yang berada di ruang sidang,” pinta Zul yang kemudian Ketua Majelis Hakim, Richard Silalahi memberikan isyarat agar wartawan yang berada di samping pintu ruang Cakra 9 masuk ke dalam.

Loading...

Meski adanya insiden pengusiran wartawan yang diajukan Fadlun Djamali terdakwa kasus penipuan dan penggelapan sebesar Rp1,4 miliar melalui penasehat hukumnya, sidang tetap berjalan lancar. Dalam persidangan pihak korban mengutarakan mereka merasa dirugikan akibat perbuatan terdakwa.

Semula mereka percaya dengan janji yang ditawarkan terdakwa, dengan bujuk rayu dengan pinjaman untuk modal usaha dan keuntungan yang dibagi rata. Atas dasar itulah, tanpa rasa curiga Abdul Hasan yang merupakan seorang Veteran ini menyerahkan sertifikatnya kepada terdakwa. Akan tetapi tanpa sepengetahuan korban dan anaknya Husni yang mana sertifikat tersebut telah dihibahkan kepadanya menjadi kaget karena kepemilikan atas nama Fadlun Djamali.

Hal ini dikuatkan Husni usai persidangan bahwa terdakwa sudah merencanakan dengan matang melihat kondisi rumah yang sepi. Selain itu, antara Abdul Hasan dengan orangtua terdakwa adalah sahabat lama sehingga ini memudahkan terdakwa menjalankan aksinya.

Terpisah, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewi Tarihoran yang dikonfirmasikan bahwa terdakwa memanfaatkan hubungan pertemanan orang tua terdakwa dengan korban.

“Bahkan untuk memuluskan aksinya ia membawa Husni sebagai ahli waris saat meminjam uang di BRI Cabang Iskandar Muda,” ungkap Dewi.

Namun belakangan setelah pembayaran lunas di BRI, terdakwa kembali meminjam uang ke Bank UOB tanpa melibatkan keluarga korban. Alhasil, terdakwa memperoleh uang segar dengan harta benda yang bukan miliknya. (tiopan)

Loading...