Sidang Dugaan Penipuan Rp1,4 Miliar, PH Terdakwa: Fakta Kami Dikesampingkan

11

Terdakwa di persidangan.

Medan-M24 | Fadlhun Jamali terdakwa kasus dugaan penipuan senilai Rp1,4 miliar, dengan korban Husni Hasan, sekali lagi menegaskan dirinya tidak ada melakukan penipuan atas korban.

Hal ini dikatakan Fadlhun dalam sidang dengan agenda mendengar pembelaan (Pleidoi) di ruang sidang Cakra VI, Pengadilan Medan (PN), Kamis (13/9) siang.

Menurut Fadlhun, masalah ini sendiri berawal saat Abdul Hasan meminta dirinya untuk membelikan rumah untuk anaknya Husni Hasan, di kawasan Komplek Seroja senilai Rp1,8 Miliar.
Karena tidak memiliki uang tunai akhirnya terjalin kesepakatan kalau Fadlhun akhirnya membeli Rumah Toko (Ruko) milik Abdul Hasan di Jln Sindoro seharga Rp1,4 miliar dengan cara KPR di Bank BRI.

Setelah uang Senilai Rp1,4 miliar cair ke rekening Abdul Hasan dan kemudian ditransfer ke Fadlhun senilai Rp1 miliar, untuk membeli rumah di kawasan Bumi Seroja. Sedangkan sisanya senilai Rp850 juta, dibayar secara tunai oleh Fadlhun dengan uang pribadinya.

Setelah semua proses berjalan sesuai dengan prosedur dan KPR Ruko di Jln Sindoro sudah dilunasi. Fadlhun dan istrinya, Dewi Maysarah dipaksa datang ke Notaris Faisal SH untuk menandatangani surat pernyataan kalau ruko Sindoro sudah lunas dan harus dihibahkan kembali kepada Abdul Hasan.

“Sebelum saya menandatangani surat di notaris tersebut, saya kerap mendapat intimidasi. Selain itu saya juga tidak mengetahui isi surat yang saya tandatangani,” katanya.

Sementara itu, Penasehat Hukum Fadlhun, Zenuddin Herman SH dan Zulficar SH mengatakan, berdasarkan keterangan dari saksi-saksi baik dari pihak Bank tidak ditemukan unsur pidana yang bisa menjerat kliennya dalam masalah ini.

“Berdasarkan fakta persidangan, bukti yang diberikan saksi-saksi maupun ahli jelas ini tidak memenuhi unsur pidana,” bebernya.

Ditambahkannya, dalam masalah ini hubungan antara kliennya dengan Abdul Hasan adalah murni hubungan Keperdataan.

Selain itu, Kuasa Hukum Fadlhun juga menyayangkan hakim terkesan mengesampingkan fakta-fakta yang mereka lampirkan dalam proses persidangan.

“Bukan cuma itu, dari saksi-saksi yang dihadirkan dan menyatakan klien kami telah melakukan penipuan adalah saksi yang dihadirkan JPU dan semuanya ada hubungan pertalian darah dengan korban. Kami minta hakim lebih jeli dalam hal ini,” tegasnya.

Setelah mendengarkan Pleidoi yang dibacakan terdakwa serta penasehat hukumnya, Majelis Hakim yang diketuai Richard Silalahi menunda sidang hingga Senin (17/9) dengan agenda mendengar jawaban dari Jaksa Penuntut Umum. (donny)

Loading...