UAS: Pilihlah Presiden yang Taat kepada Allah & Rosul

8

MEDAN-M24 |  Wacana mendorong Ustadz Abdul Somad (UAS) sebagai calon wakil presiden terus menggelinding dan menjadi polemik di publik. Banyak yang setuju, ada juga yang menolak.

UAS sendiri sudah menyampaikan penolakannya secara halus. Tetapi, itu tidak membuat pihak-pihak yang menghendakinya maju sebagai cawapres lantas berhenti. Mereka masih berikhtiar menjadikan mubalig yang sangat populis itu bersedia maju menjadi salah satu pemimpin negara.

Berikut, pernyataan UAS dalam program Fakta tvOne:
Saat ditanya kembali mengenai Ijtima Ulama yang merekomendasikan dirinya sebagai cawapres, UAS menyampaikan, masih banyak yang lebih baik dan berilmu dari dirinya soal urusan politik. “Tidak mampu, di atas berilmu ada yang berilmu, tak masuk surga siapa yang dalam hatinya ada sombong sebenar biji sawi,” katanya.

Selain itu, UAS menyampaikan kalau dia tersentuh dengan tulisan yang masuk dari berbagai sumber, kalau dia akan keliru terjun ke dunia politik, karena tidak memiliki darah politik. Dan, ini menunjukan kelemahan dirinya.
“Macam-macam, ada tulisan yang menyentuh, betapa Somad keliru dalam beberapa hal, kalau dia tidak memiliki darah politik. Dia keliru dalam masalah ini, beberapa keputusannya keliru, kalau dia tidak punya darah politik. Dan, itu betul-betul tulisan yang menyentuh hati saya dan menunjukkan kelemahan saya,” katanya.

Kemudian UAS menjelaskan, kalau dirinya adalah seorang akademisi, pendidik, dan penulis. Semua itu yang selalu dia geluti dan dunianya adalah berdakwah, da’i, dan penceramah.
“Bahwa saya seorang murni akademisi, pendidik, penulis, dan itu sudah saya geluti. Pendidikan saya mengajar, akademisi di kampus, penulis saya menulis buku, 37 masalah populer, 99 tanya jawab sholat, terjemah buku semua ada saatnya. Berdakwah, da’i, penceramah. Itulah dunia saya,” katanya.

Dalam setiap tulisan, UAS selalu menulis kalau dirinya adalah guru mengaji, dan sampai akhir hayatnya memohon diberikan Allah kesepatan untuk menyampaikan dakwah dan mati dalam keadaan husnul khotimah.
“Tetapi, saya tidak mengecam, mencela sahabat-sahabat saya yang terjun di politik,” katanya.
Saat ditanya soal cara memilih pemimpin negeri ini yang sebentar lagi akan terlaksana dalam Pilpres 2019, UAS menyarankan untuk memilih pemimpin yang taat kepada Allah dan Rosulullah.

“Kita tinggal di negara dengan sistem demokrasi, suara terbanyak itulah yang akan menang. Sebab itu, masing-masing calon, tentu akan meraih suara umat ini dan umat ini disadarkan dari bawah, lewat ceramah, lewat khutbah. Hai orang beriman, pilih pemimpin yang taat kepada Allah dan Rosul,” katanya.

Selain itu, UAS meminta dalam memilih pemimpin, pilihlah secara zahir, karena batin dan hatinya adalah domain Allah. Dia juga meminta masyarakat menggunakan telinganya baik.
“Gunakan telinga baik-baik, trackrecord masa lalunya kita kan punya catatannya, dengar baik-baik siapa dia, pandang, tonton baik-baik, lihat, jangan lupa ada bisikan hati kecil, istiqoroh, setelah itu barulah kita pilih dia, dan setelah kita kerahkan segenap kemampuan, lahir batin, financial, kemampuan otak, bahwa kemudian tidak juga terpilih, kita sudah berbuat, Allah tidak akan tanya kita berapa masalah dunianya yang sudah diselesaikan, yang ditanya Allah kau pernah tidak berbuat, sekecil apapun perbuatan kita itu akan bernilai di hadapan Allah, dengan syarat iklas karena Allah,” punkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf Muhammad Martak, menjelaskan penolakan sebagai calon wakil presiden menunjukan sikap Ustadz Abdul Somad sebagai ulama yang rendah hati dan tidak berambisi mengejar jabatan dan kekuasaan.
“Kalau Abdul Somad biarlah menjadi penceramah saja,” penegasan itu kembali dilontarkan UAS sembari tersenyum di hadapan ribuan jamaah Sholat Subuh di Masjid Raya Al Abror, masjid terbesar di Kota Padangsidimpuan, akhir pekan lalu.

Penegasan tersebut terucap ketika menjawab pertanyaan dari salah seorang jamaah. UAS mengatakan, dengan menjadi penceramaah seperti saat ini, maka akan lebih banyak do’a kebaikan yang akan dia terima dari para jamaah.
“Saya akan selalu dido’akan oleh jamaah yang datang mendengarkan tausiah,” tandas UAS ketika menjawab pertanyaan yang ditulis melalui selembar kertas itu. (vi)

Loading...